Senin, 19 Desember 2011

MYOFASCIAL TRIGGER POINT SYNDROME



( MTPS)
DEFINISI
Secara klinis MTP dapat didefinisikan sebagai berikut : MTP adalah suatu daerah kecil (spot/point) yang hipersensitif/hiperiritabel pada otot atau fasianya, yang menimpulkan rasa nyeri setempat jika ditekan dan dapat memberikan nyeri rujukan (refered pain) yang spesifik beserta fenomena otonomik. Sedang MTP Syndrome adalah sindroma dari kumpulan tanda dan gejala dari satu atau beberapa trigger point (TP/TrP) (Dr. Janet G. Travell).
Istilah-istilah lain, seperti ; rematik otot, rematik non-artikular, myogloses, mialgia, fibromyalgia, fibrositis.
Travel and Simon membagi Trigger Point (TrP) menjadi dua yaitu TrP-aktif dan TrP-laten. TrP-aktif menimbulkan nyeri MTPS, pada pemeriksaan fisik (tekanan jari) menimbulkan nyeri setempat, nyeri rujukan serta reaksi “local twitch” yaitu berupa kontraksi lokal sekilat dari otot yang diperiksa pada saat TrP ditekan, dan juga reaksi lain berupa “jump sign” yaitu ditunjukkan dengan gerak menjauhkan diri dari sumber tekanan, yang dalam keadaan ekstrim dapat dengan gerakan melonjak.
Sedang TrP-laten secara klinik tidak menimbulkan nyeri, jika ditekan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman setempat. Pada TrP-laten ini walaupun telah lama dalam keadaan diam, suatu kali dapat diaktifir oleh stimulum yang dapat berupa ; trauma fisik maupun psikis, beban berlebihan yang mendadak pada otot yang bersangkutan, serta penggunaan otot yang berlebihan.
Untuk kepentigan klinis, TrP dibagi atas 2 kelompok, yaitu ;
  1. MTP (Myofascial Trigger Point), yaitu trigger point yang berada di otot atau fascianya yang menjadi sentra MTPS.
  2. Non-Myofascial Trigger Point, yang terdiri dari ; TrP pada jaringan parut, TrP pada ligament, dan TrP pada periosteum.
Bagaimana patomekanisme/patofiosiologi MTPS belum dapat dijelaskan dengan memuaskan. Data laboratorium, radiologis, histologist menunjukkan hasil yang tidak spesifik untuk MTPS. Pemeriksaan elektromiografi juga tidak dapat memberikan gambaran yang khusus yang bisa dikaitkan dengan MTPS.
Pola rujukan nyeri dari MTP tidak mengikuti distribusi miotom ataupun dermatom dan tidak juga mengikuti jalannya saraf tepi. Daerah rujukan nyeri disebut “reference zone”, yang dapat terletak dekat dengan TrP tetapi umumnya berada jauh dari TrP. Lokasi TrP dan reference zone adalah khusus pada setiap otot, sehingga seakan-akan terdapat “Peta MTP. Nyeri rujukan biasanya berupa sensasi kemeng (dull and aching), seringkali terasa dalam, sehingga sering penderita mengatakan sakitnya samapi ke tulang. Derajat nyeri juga bervariasi dari yang ringan sampai yang sangat berat sehingga disangka terdapat suatu penyakit yang amat serius.
MTPS akan muncul secara klinis jika ada stimulus. Bisa berupa stimulus langsung atau stimulus tidak langsung.
Stimulus langsung dapat berupa ; trauma fisik yang keras, beban yang mendadak berlebihan pda otot, lelah karena kerja fisik yang berat dan berlebihan serta chilling (rasa dinging).
Stimulus tidak langsung, dikelompokkan pada “perpetuating factors”, yatiu berupa ; trigger point primer, faktor alergi, gangguan metabolism dan endokrin, arthritis, penyakit visera baik yang  menahun maupun yang akut, radikulopati, imobilisasi lama, infeksi kronis, faktor psikologis, dan faktor mekanik.
MANAJEMEN MTPS

MTPS yang sederhana dengan mudah dapat diterapi, tetapi MTPS yang kronis/kompleks yang mempunyai “perpetuating factor” yang kompleks-berat, akan sukar ditangani, perlu kesabaran dan kerjasama pasien-dokter/terapi yang baik.
Manajemen MTPS dapat dibagi menjadi 3 komponen, yaitu ; Fisioterapi, eliminasi “perpetuating factor”, dan medikamentosa.
FISIOTERAPI PADA MTPS
Modalitas Fisioterapi pada kasus MTPS bisa berupa ;
  1. MASSAGE
Prinsip efek terapeutik massage adalah menghancurkan perlengketan pada Trigger point, memperbaiki sirkulasi darah local dan relaksasi otot. Teknik “deep friction” dari Cyriax cukup efektif dan mudah dikerjakan untuk merusak TrP tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan “effleurage” dan atau “stroking”.
  1. Terapi es/dinging (icing)
Dapat berupa kompres dingin dengan memakai handuk atau cold pack, dan atau ice massage. Hati-hati kemungkinan alergi terhadap es.
  1. Terapi panas
Terapi panas superficial seperti kompres panas (hot pack), lampu infra merah (infra red), tidak dapat menenangkan TrP. Terapi panas-dalam (baik berupa Shortwave diathermy atau Microwave Diathermy) lebih efektif untuk TrP dengan mekanisme memperbaiki mikrosirkulasi pada serabut otot yang letaknya dalam sehingga menimbulkan efek relaksasi. Yang paling efektif adalah ultrasound therapy, dengan mekanisme mikromassage akan menghancurkan perlengketan pada trigger point tanpa menimbulkan reaksi nyeri seperti halnya ketika dilakukan “deep friction”.
  1. TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation
Dengan stimulasi listrik intensitas rendah (dibawah ambang nyeri), dimana frekuensi dapat tinggio (high frecuency current) atau rendah (Low frecuency current), dengan electrode diletakan di kulit diatas TrP, pada kasus-kasus MTPS baru, cukup efektif. Pada kasus kronis dan sulit TENS diberikan bersama modalitas lain.
  1. Spray and Stretch”
Metode spray and stretch atau stretch and spray (semprot dan regang) merupakan cara terapi MTPS yang dianggap paling mudah, cepat dan kurang sakit. Yang umum dipakai adalah “chloraethyl spray”.
  1. Exercise therapy (terapi latihan)
Banyak kegagalan terapi MTPS karena tidak memasukkan program terapi latihan di dalam paket manajemen. Terapi latihan yang utama adalah latihan peregangan setelah terapi fisik (terapi Diathermy, terapi Ultrasound, infra red terapi), yang juga bisa digunakan sebagai home exercise/home programe. Lewit melaporkan hasil studinya mengenai efektifitas prosedur terapi latihan berupa “isometric relaxation” untuk menenangkan nyeri miofascial. Krauss memberikan beberapa model latihan peregangan dan relaksasi yang dapat digunakan di dalam manajemen MTPS. Metode Terapi latihan yang lebih efektif berupa hold relax and contract relax yang diambil dari teknik-teknik Propioceptive Neuromusculer Fasilitation (PNF).




ELIMINASI “PERPETUATING FACTORS”
Banyak kegagalan di dalam terapi MTPS karena tidak berhasil mengeliminasi “perpetuating factor” ini. Sebab faktor ini akan selalu merangsang timbulnya TrP serta membuat TrP yang sudah ada menjadi “irritable”.


MEDIKAMENTOSA
Dapat dipertimbangkan obat-obat analgetik, NSAID dan antihistamin jika faktor alergi didapatkan. Jika ada keluhan gangguan tiduk maka bisa diberikan antihistamin dulu. Muscle relaxant jika berdiri sendiri kurang efektif. Pada kasus-kasus tertentu golongan kortikosteroid jangka pendek, dosis rendah dapat dipertimbangkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar